| Wira Batara Prasetya Baso |
Berpikir kritis merupakan kemampuan penting yang perlu
dimiliki mahasiswa dalam menghadapi berbagai persoalan akademik
maupun kehidupan sehari-hari.
Dalam proses berpikir, mahasiswa sering menggunakan asumsi sebagai dasar awal
untuk memahami suatu permasalahan. Asumsi dapat membantu seseorang membentuk
dugaan sebelum memperoleh informasi yang lengkap, tetapi asumsi
yang tidak diuji dapat menghasilkan pemikiran yang keliru.
Kehadiran antitesis dapat digunakan untuk mempertanyakan dan menguji
kebenaran suatu asumsi sehingga mahasiswa mampu melihat suatu permasalahan dari
sudut pandang yang lebih objektif.
Asumsi merupakan anggapan sementara yang digunakan seseorang dalam memahami atau menilai suatu keadaan. Dalam kehidupan mahasiswa, asumsi dapat terbentuk berdasarkan pengalaman, informasi, lingkungan pergaulan maupun pengetahuan yang dimiliki. Asumsi dapat menjadi kekuatan karena membantu mahasiswa mengambil keputusan ketika informasi yang tersedia terbatas. Asumsi juga dapat menjadi kelemahan apabila diterima sebagai kebenaran tanpa adanya pemeriksaan terhadap fakta atau bukti yang mendukungnya. Sebuah asumsi dapat mengalami penguatan maupun pelemahan sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Al-Farabi. Sebagian orang tidak dapat mengetahui antitesis dari asumsi yang dimilikinya, sedangkan sebagian lainnya dapat mengetahui antitesis tersebut melalui dua cara, yaitu dengan menghadirkannya ke dalam benak atau melalui penyampaian langsung dari orang lain. Kekuatan sebuah asumsi dapat diukur berdasarkan sedikitnya kuantitas antitesis yang muncul, sedangkan kelemahan sebuah asumsi dapat diukur berdasarkan banyaknya jumlah antitesis yang ditemukan.
Antitesis merupakan gagasan atau pandangan yang berlawanan dengan suatu pemikiran awal. Dalam proses berpikir kritis, antitesis berperan sebagai alat untuk mempertanyakan, menguji, dan menemukan kelemahan dari sebuah asumsi. Mahasiswa dapat menggunakan antitesis dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa pendapat yang diyakini belum tentu sepenuhnya benar. Proses tersebut mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menerima suatu informasi, tetapi juga mencari alasan, bukti, dan sudut pandang lain sebelum menarik kesimpulan. Menurut saya, salah satu kekurangan seseorang saat ini adalah sulit menerima antitesis yang sering kali disebabkan oleh sikap egosentris. Seseorang yang masih menganut pola pikir egosentris cenderung mempertahankan asumsi dan pendapatnya tanpa mempertimbangkan pandangan yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menurunkan ego agar seseorang tidak hanya pandai dalam membentuk asumsi, tetapi juga mampu menerima, mempertimbangkan, dan menguji antitesis terhadap asumsi yang dimilikinya.
Penerapan asumsi dan antitesis dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan mahasiswa seperti diskusi kelas, pengambilan keputusan akademik, organisasi, maupun penyelesaian masalah. Sebagai contoh, seorang mahasiswa dapat berasumsi bahwa suatu program kerja di organisasi tidak bermanfaat berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Asumsi tersebut dapat diuji melalui antitesis dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa tingkat kemanfaatan suatu program kerja dapat berbeda sesuai dengan keadaan yang dialami seseorang.
Proses mempertentangkan kedua pandangan tersebut merupakan bagian dari proses dialektika mahasiswa, yaitu proses mempertemukan suatu pemikiran dengan pemikiran yang berlawanan untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas. Melalui proses dialektika, mahasiswa tidak hanya mempertahankan asumsi yang dimiliki, tetapi juga berusaha memahami antitesis dan menemukan pemikiran yang lebih kuat berdasarkan pertimbangan terhadap kedua pandangan tersebut. Proses tersebut dapat membantu mahasiswa menghasilkan penilaian yang lebih rasional, terbuka terhadap perbedaan pendapat, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Antitesis yang disampaikan mahasiswa memiliki peran penting
dalam kemajuan kampus karena dapat menjadi sarana untuk menguji, mengkritisi,
dan memperbaiki berbagai kebijakan, program, maupun keputusan yang diterapkan
oleh pihak kampus. Mahasiswa sebagai pihak yang secara langsung merasakan
proses pendidikan dapat memberikan sudut pandang yang berbeda berdasarkan pengalaman, pengamatan, fakta, dan kebutuhan yang mereka temui. Penyampaian
antitesis tidak berarti
menolak seluruh kebijakan kampus, tetapi menjadi
bentuk evaluasi untuk menemukan kelemahan serta memberikan alternatif penyelesaian
yang lebih baik. Antitesis mahasiswa juga dapat mendorong
pihak kampus untuk
mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan sehingga
kebijakan yang dihasilkan menjadi lebih tepat, terbuka, dan sesuai dengan
kebutuhan sivitas akademika. Dengan demikian, antitesis mahasiswa lebih berperan
sebagai alat kontrol dan evaluasi yang dapat mendorong perbaikan
berkelanjutan serta menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan
kemajuan kampus.