Oleh: Muftihaturrahmah
Mahasiswi Pascasarjana UNS
MEJAHIJAU - Masih ada anggapan bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi akan sulit diatur, terlalu kritis, atau bahkan mengancam posisi laki-laki. Anggapan ini tidak hanya keliru, tetapi juga menunjukkan betapa kuatnya rasa takut terhadap perempuan yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Pendidikan perempuan bukan ancaman bagi laki-laki. Yang terancam hanyalah budaya yang selama ini berdiri di atas ketidaktahuan, ketergantungan, dan ketimpangan.
Perempuan berpendidikan tidak otomatis menjadi pembangkang. Ia hanya lebih mampu memahami hak dan kewajibannya. Ia dapat membedakan antara nasihat dan pembatasan, antara kasih sayang dan kontrol, antara tradisi dan praktik yang tidak adil. Ketika seorang perempuan mulai berani bertanya, masyarakat sering kali buru-buru menyebutnya tidak sopan. Padahal, pertanyaan bukan tanda kurang ajar. Pertanyaan adalah awal dari kesadaran.
Pendidikan memberi perempuan kemampuan untuk membaca dunia secara lebih luas. Ia tidak lagi menerima semua aturan hanya karena aturan itu diwariskan. Ia dapat menilai apakah suatu keputusan benar-benar baik bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat. Inilah yang sering dianggap menakutkan, perempuan tidak lagi mudah dibungkam oleh kalimat “memang sudah seharusnya begitu.”
Masalahnya, banyak masyarakat masih membesarkan laki-laki untuk menjadi pemimpin dan perempuan untuk menjadi pengikut. Laki-laki didorong mengejar cita-cita, sementara perempuan kerap diarahkan untuk sekadar menjadi pendukung cita-cita orang lain. Anak laki-laki ditanya ingin menjadi apa, sedangkan anak perempuan sering ditanya kapan menikah. Laki-laki dipuji karena ambisinya, sementara perempuan dicurigai ketika memiliki ambisi yang sama.
Standar ganda semacam ini membuat keberhasilan perempuan selalu disertai syarat. Perempuan boleh pintar, tetapi jangan terlalu pintar. Boleh sukses, tetapi jangan sampai lebih sukses daripada laki-laki. Boleh mandiri, tetapi tetap harus terlihat membutuhkan. Boleh berbicara, tetapi jangan terlalu keras. Dengan kata lain, perempuan diizinkan berkembang selama pertumbuhannya tidak mengganggu kenyamanan patriarki.
Padahal, laki-laki yang percaya diri tidak akan merasa terancam oleh perempuan yang cerdas. Hubungan yang sehat tidak dibangun dari ketimpangan pengetahuan, melainkan dari saling menghargai. Laki-laki yang matang tidak membutuhkan pasangan yang diam agar dirinya tampak kuat. Ia justru akan menghargai perempuan yang mampu menjadi rekan berpikir, rekan mengambil keputusan, dan rekan menghadapi persoalan hidup.
Pendidikan perempuan juga bukan hanya persoalan individu. Dampaknya menjangkau keluarga dan masyarakat. Perempuan yang memiliki pengetahuan lebih baik cenderung lebih mampu mengambil keputusan terkait kesehatan, ekonomi, pengasuhan, dan masa depan keluarganya. Ia dapat mendampingi anak-anaknya dengan lebih kritis dan membangun lingkungan yang menghargai proses belajar. Karena itu, menghalangi pendidikan perempuan sama saja dengan mempersempit masa depan satu generasi.
Sejarah Indonesia telah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa tidak pernah dibangun hanya oleh laki-laki. R.A. Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan karena ia memahami bahwa kebodohan bukan kodrat, melainkan akibat dari sistem yang membatasi. Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan banyak perempuan lainnya membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan pembebasan. Mereka tidak sedang memusuhi laki-laki. Mereka sedang menolak ketidakadilan.
Sayangnya, hingga kini pendidikan perempuan masih sering diperlakukan sebagai pilihan tambahan, bukan hak dasar. Di sejumlah keluarga, pendidikan anak perempuan dianggap tidak terlalu penting karena pada akhirnya ia akan menikah. Cara berpikir ini sangat berbahaya. Pernikahan bukan alasan untuk menghentikan perkembangan seseorang. Perempuan tetap memiliki pikiran, potensi, dan hak untuk berkarya setelah menikah. Bahkan, keluarga yang sehat seharusnya menjadi ruang yang mendukung pertumbuhan semua anggotanya.
Pendidikan juga tidak boleh dipersempit hanya pada gelar akademik. Pendidikan mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami hukum, mengelola keuangan, menjaga kesehatan, mengenali kekerasan, serta berani mengatakan tidak terhadap perlakuan yang merendahkan. Perempuan yang memahami hal-hal tersebut bukan perempuan yang sulit diatur. Ia adalah manusia yang sadar bahwa dirinya berharga.
Jika ada laki-laki yang merasa terancam oleh pendidikan perempuan, persoalannya bukan pada pendidikan perempuan, melainkan pada rasa tidak aman dalam dirinya. Ia mungkin terbiasa mendapatkan kuasa tanpa perlu membuktikan kapasitas. Ia mungkin takut kehilangan dominasi ketika perempuan mulai memiliki pilihan. Namun, kemajuan tidak seharusnya diukur dari seberapa lama satu kelompok dapat mempertahankan keistimewaannya.
Kesetaraan bukan perlombaan untuk mengalahkan laki-laki. Kesetaraan adalah upaya memastikan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, berpendapat, memimpin, dan menentukan masa depan. Perempuan yang berpendidikan tidak sedang mengambil hak laki-laki. Ia sedang menggunakan haknya sendiri.
Maka, berhentilah mengajarkan perempuan untuk mengecilkan diri demi menjaga ego laki-laki. Ajarkan mereka untuk membaca, berpikir, berbicara, berkarya, dan berdiri tegak. Sebab bangsa yang takut pada perempuan berpendidikan pada dasarnya sedang takut pada masa depannya sendiri.
Pendidikan perempuan bukan ancaman bagi laki-laki. Pendidikan perempuan adalah ancaman bagi kebodohan, ketidakadilan, kekerasan, dan kekuasaan yang tidak mau dipertanggungjawabkan.
