Author: Muftihaturrahmah
Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret
Hai. Aku kembali memulainya dari sini.
Pikirku, aku akan kembali memulai sesuatu yang sudah sejak lama hilang dariku. Aku ingin kembali mengingat sembari belajar, apakah tulisan-tulisanku bisa tetap seindah dulu atau bahkan menjadi sesuatu yang asing bagiku. Tapi seharusnya sih tidak, karena apa yang telah menyatu dalam diri akan tetap ada, kan, harusnya.
Jika berkenan, mari duduk bersama dan ku ceritakan bagaimana aku beberapa tahun belakangan.
Hmm, harus ku mulai darimana?
Rasanya sudah sangat lama, bahkan akupun sudah lupa kapan terakhir kali jariku menari di atas keyboard yang mungil ini. Cerita apa yang harus aku ceritakan lebih dulu, apakah cerita tentang bagaimana akhirnya aku ingin jatuh cinta setelah lama bersembunyi dari kisah romansa atau cerita tentang bagaimana caraku bertahan dan bisa berjalan hingga sejauh ini. Rasanya, aku tidak bisa memilih, keduanya punya tempat dihatiku.
Baiklah, akan aku ceritakan satu-satu.
Manusia yang akan aku ceritakan kali ini adalah satu-satunya manusia yang akhirnya mampu membuatku berani untuk jatuh cinta. Dia menemukanku, entah berapa lama aku bersembunyi dari dunia romansa yang kata orang-orang semenyenangkan itu. Dan ternyata memang benar, cerita cinta menjadi sangat menyenangkan ketika kita berani bertanggung jawab atas keputusan yang kita ambil. Dia menarik, sangat menarik, meskipun dia sendiri terkadang masih ragu apakah aku sudah betul-betul jatuh cinta. Aku tidak ingin menerka, satu hal yang ku tahu, seluruh aku sudah penuh oleh dia.
Kisah kami dimulai dari pesan singkatnya yang mengajak berkenalan. Tentunya tidak aku terima begitu saja, aku menghabiskan Sebagian waktuku untuk mencari tahu tentang dia. Setelah ku temukan, tentu saja belum lagi ku terima, harus ada izin yang ku miliki untuk bisa benar-benar melangkah. Betul, aku penuh dengan rasa hati-hati. Bukan karena aku tidak percaya, tapi karena aku paham bahwa yang kuinginkan bukan lagi sekadar permainan. Setelah semua ku miliki dan aku mulai berani, meski masih dengan hati-hati aku pun menjawab pesan singkat itu, ya tentunya dengan pesan singkat pula, ‘waalaikumsalam, boleh kak’, begitu kataku. Siapa yang menyangka bahwa pesan singkat hari itu membawa kami ke hari ini. Uniknya, kami tidak berkenalan sebagaimana manusia baru bertemu seperti pada umumnya. Perkenalan kita diisi dengan diskusi politik dan pemerintah kota pada saat itu. Menarik, kan. Kian hari, kami semakin dekat dan dia memberanikan diri meminta nomor whatsapp ku. Seperti yang ku katakan tadi, aku selalu penuh dengan rasa hati-hati. Aku memberinya dengan beberapa syarat, jikalau berhasil dia akan mendapatkan tiga angka nomorku. Begitu seterusnya, hingga akhirnya kami terhubung melalui whatsapp. Yap, kami semakin dekat. setiap malam pada hari-hari itu, separuhnya kita habiskan dengan bercerita melalui sambungan telepon. Rasanya menyenangkan sekali, untuk perempuan yang hari-harinya diisi dengan sibuk bekerja dan memikirkan semua beban yang ada, kegiatan itu cukup untuk menjadi istirahatku. Mulai hari itu, sepi tidak lagi ada dalam hidupku, terimakasih. Kami memutuskan untuk bertemu pertama kalinya setelah berkenalan via telepon selama tiga puluh hari. Bukan tanpa alasan, pikirku, aku tidak menginginkan ini hanya sekadar permainan. Aku ingin kami benar-benar matang dengan keputusan yang kami punya. Tidak dipengaruhi euphoria berkenalan lalu tiba-tiba jatuh hati karena cerita-cerita menyenangkan yang tidak selamanya akan kami temui.
Hari itu hujan sedang kami telah bersiap. Hari itu istimewa, aku berusaha berpenampilan secantik dan senyaman mungkin sesuai versiku. Hal itu sudah menjadi prinsipku, bentuk cintaku pada diriku dan caraku menghargai orang yang akan ku temui. Jujur, aku canggung dan aku bingung. Katanya, dia menjemputku. Dan itu benar, dia menjemputku kali pertama kita bertemu, senang sekali bukan. Aku menyapanya pertama kali dengan salam dan senyum canggung yang ku punya, ‘aku harus banyak bicara, aku harus bercerita biar canggungku tidak terlalu terlihat’, begitu pikirku. Perjalanan hari itu kita nikmati bersama, entah apa yang ada dalam pikirannya kala itu, aku tidak berani menerka. Di pertengahan perjalanan, aku merasa butuh minum. Bukan karena aku haus, tapi karena otak ku memberi perintah bahwa dengan melihat dan meneguk air canggung ku akan sedikit bisa berkompromi. Aku memintanya untuk menepi sebentar dan dia setuju, aku bersiap dengan mengambil tas ku, tapi, ‘Biar aku saja’, begitu katanya. Tanpa persetujuan dia lalu turun dari mobil. Aku tidak mengerti bagaimana dengan perasaanku kala itu. Aku terbiasa mengusahakan apapun yang kuinginkan sendirian, aku kaget, perasaan ku tidak enak, ‘aku baru saja membebaninya, dengan menjemputku dan membeli sebotol air untukku’. Hal itu terasa sangat asing di hidupku dan aku tidak terbiasa. Aku diam duduk dan membeku melihatnya melakukan itu, sederhana tapi aku tidak terbiasa.
Pertemuan pertama itu kami isi dengan menonton film di bioskop, unik, kan. Hahaha. Tidak seperti kencan pertama orang-orang pada umumnya. Kami menonton film horror favoritku, tapi sebelum itu, sekali lagi dia merogoh kantongnya buat membeli cemilan untuk kami berdua. Aku tidak terbiasa, itu mahal dan aku merasa tidak nyaman terlalu banyak membebaninya. ‘kenapa beli disana, mahal. Di dalam bioskop kita bisa beli paket bundling buat berdua jatuhnya lebih hemat’ begitu kataku, katanya ‘tidak masalah’. Kami fokus menonton film, menikmati jump scared dan seramnya film exorcise itu. Aku ketakutan, tapi aku merasa aman. Mungkin karena ada dia, ya. Begitu film selesai kami memutuskan untuk makan diluar. ‘mau makan apa?’ tanyanya, ‘makan sate yang di pinggir jalan saja, pasti enak’. Aku sadar dia menoleh pada ku, entah apa yang ada dipikirannya. Pikirku saat itu, aku hanya ingin membantu orang lain sebagaimana rezeki yang ku peroleh darinya hari itu, ‘kalau makan dipinggir jalan, kita turut membantu orang lain buat berkembang dan bukan sekadar bertahan’ kata ku malam itu. Oh ya, kalian harus tahu, tanpa sengaja hari itu kami mengenakan warna baju yang sama bukan lagi senada, sangat serasi bukan. Kalau dari postingan Instagram yang pernah aku baca, menurut psikologi kejadian itu memberitahu kita bahwa hati kita sedang berada di frekuensi yang sama. Benar atau tidak, aku tetap bahagia dengan itu. Kami sangat menikmati makanan kami malam itu, kami menikmatinya dengan sangat sempurna, riuh suara kendaraan, lampu malam dan aroma sate yang baru saja diangkat dari pembakaran. Aku nyaman.
Hari-hari kami lanjutkan seperti biasanya, aku bekerja dan dia bekerja. Bedanya, pekerjaan rasanya menjadi lebih ringan karena perasaan yang penuh cinta di masa itu, menyenangkan sekali. Hari demi hari, malam demi malam, kami lalui bersama hingga ada masa dia menyatakan apa yang dia rasakan. Sebenarnya, di masa itupun aku juga merasakan nyaman yang sama. Hanya saja, kembali lagi, aku penuh dengan hati-hati. Aku meminta padanya untuk bersabar, sembari memperhatikan dan merasakan semua ini lebih dalam. Aku tidak ingin bermain-main, perasaanku, perasaannya, waktu dan waktunya bukan mainan yang bisa diperlakukan seenaknya. Aku meminta kesempatan untuk bertemu tiga kali sebelum akhirnya kami memutuskan apakah kami benar-benar akan bersama. Sekali lagi, bukan tanpa tujuan, aku hanya ingin dia yakin dan bertanggung jawab atas pilihannya untuk memilihku, aku tidak ingin menjadi penyesalan seseorang di kemudian hari. Dia setuju dan sampailah kami pada hari itu. Kami bertemu untuk ketiga kalinya dan berakhir pada kesepakatan bahwa kita akan bersama. Kami saling berterima, kami saling mendukung dan kami akan selalu ada dimasa apapun yang kami hadapi masing-masing. Aku telah berkomitmen untuk memilihnya dan akan bertanggung jawab atas pilihan ku itu dan begitupun dengan dia.
Aku penuh dengan rasa hati-hati, bukan karena kaku atau berlebihan. Aku hanya sedang mengusahakan sesuatu yang layak untukku dan memberikan sesuatu yang layak untuk pasanganku. Aku ingin pasangan ku tahu bahwa sebelum aku bersamanya aku telah mengetahui standar diriku dan aku mengetahui selayak apa aku. Bukan karena aku sombong, tapi aku merasa bahwa dengan mengenali diriku sendiri, mencintai diriku sendiri, mengusahakan diriku sendiri aku layak diberlakukan dan memperlakukan orang lain dengan sebaik mungkin. Aku tidak ingin menjadi beban dan aku tidak ingin seseorang yang bersama ku tidak memperoleh rasa aman dan nyaman. Aku tahu, hidup itu akan terus berjalan dan kita akan terus belajar. Tapi setidaknya dengan mengenali diriku dan apa yang menjadi keinginanku aku jadi bisa lebih fokus ke jalan mana aku harus memilih.
Kami tidak banyak bertemu karena kesibukan masing-masing, tapi kami tahu kalau separuh malam adalah ruang wajib untuk kami saling kembali. Bukan sleep call, kami hanya menyempatkan beberapa waktu untuk bercerita bagaimana kita di hari melelahkan itu.
Oh ya, aku juga tidak mengerti dan tidak punya alasan kenapa akhirnya aku jatuh cinta sama dia. Mungkin karena dia jawaban dari doaku selama ini, ya. Hmm, sepertinya begitu.
Tuhan memang maha baik, maha segala sesuatu. Aku adalah seorang anak yatim di usiaku yang baru menginjak tujuh tahun dan aku punya dua adik, aku satu-satunya anak perempuan orang tua ku. Hidupku berjalan sebagaimana skenario Tuhan, baiknya, buruknya, susahnya, sedihnya, senangnya, semuanya, Tuhan mampukan untuk aku melewatinya. Terhitung sangat belia, aku sudah mengambil sedikit tanggung jawab menjadi Ibu untuk adikku karena Ibu juga harus mengambil tanggung jawab sebagai Ayah untuk kami. Sangat sebentar Tuhan meminjamkan Ayah untuk kami, tetapi semua kenangan baik tersusun rapi di memori kepala ku. Aku tidak ingin bercerita banyak tentang Ayah, aku hanya ingin kalian tahu kalau salah satu doa ku berasal dari Ayah. Doaku begini, ‘Ya Allah, aku ingin punya pasangan yang seperti Ayah’. Ayahku tidak kaya, tapi Ayah bertanggung jawab, Ayahku tidak kasar tapi selalu disegani semua orang, Ayahku gemar membantu, berbagi dan tulus kepada semua orang, Ayahku tidak mudah marah, Ayahku sangat penyayang, Ayahku pekerja keras dan peluhnya selalu penuh perjuangan. Ada banyak hal yang Ayah lakukan hingga bahkan disaat Ayah sudah tidak ada, pertolongan dan kebaikan selalu hadir karena aku adalah anak Ayah. Bagaimana hatiku tidak penuh.
Aku melihat itu semua ada sama dia. Hatiku kembali penuh ketika aku memutuskan untuk benar-benar berkomitmen dengan dia. Sekecil nama saja, nama Ayah dan namanya hampir sama, hanya beda satu huruf saja. Hadirnya menyembuhkan hati yang bahkan tidak pernah dia beri luka. Cintaku penuh untuknya, meskipun begitu, tentunya aku tidak memandang dia sebagai pengganti Ayah atau obat pelengkap atas luka ku yang pernah ada. Aku hanya bersyukur karena hadirnya kembali memberiku rasa aman dari dunia yang awalnya aku tidak tahu akan kemana arahnya. Sejak bersama dia, aku tidak lagi takut untuk melangkah, aku menjadi semangat untuk setiap perjuangan yang ku punya, aku belajar, aku berusaha aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk dia. Ada banyak hal yang kami lalui bersama dan itu tidak mudah. Perjalanan hubungan memang tidak selamanya mulus dan kami bisa pahami itu, yang terpenting adalah kami tahu kemana kami harus kembali setelah sekian perjuangan, usaha, susah dan senang kami rasakan.
Jikalaupun akhirnya dia membaca ini, ‘terimakasih sudah hadir di hidupku, tidak hentinya aku bersyukur karena akhirnya kamu memilihku’.
Dia indah, sebagaimana Tuhan menciptakannya dengan sempurna. Aku tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana dia dengan kesempurnaanya, takut kalian jatuh cinta, heheh.
Kami mengisi hubungan ini dengan long distance relationship.
Yap. Setelah akhirnya aku memutuskan untuk resign dari kantor, kami akhirnya berhubungan jarak jauh. Ada banyak ketakutan di keputusanku yang ini. Tapi aku tidak punya pilihan, kami harus bersabar. Aku bersyukur karena dia bisa mengerti dan dia bisa menerima segala bentuk usahaku. Dia menerimaku ketika aku bekerja, dia menerimaku ketika aku tidak bekerja dan dia tetap menerimaku bahkan ketika kami harus berpisah jauh karena akhirnya aku kembali memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Seperti prinsipku diawal, aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk dia, aku harus bisa setara, aku harus bisa mengerti setiap detail ceritanya, pola pikir nya, karakternya dan semua yang ada pada dirinya. Kami punya impian yang sangat besar, kami tahu dunia pasti akan ragu ketika mendengarnya, tetapi kami tidak. Kami akan terus berusaha untuk mencapainya, ‘untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa, kita harus mengorbankan banyak hal’, begitu kataku ketika keraguan menghantuinya. Kami punya Impian yang besar, tentu perjuangannya tidak akan kecil. Hal itulah yang selalu menjadi pengingat bahkan tujuan ketika kita sama-sama dihadapkan dengan takut, ragu dan lelah. Tapi sekali lagi, kuncinya adalah kita tahu kemana kita harus kembali.
Waktu kian berjalan, ada banyak sekali yang membuaku semakin jatuh cinta dan menyimpan segala harapku kepada dia. Mungkin narasiku kali ini agak berlebihan, tapi tidak. Inilah yang benar-benar aku rasakan. Aku mencintainya karena itu adalah dia, bukan karena dia yang menjadi orang lain. Aku percaya bahwa kita sedang sama-sama berusaha, meskipun di tempat yang berbeda. ‘kita, kami’ akan selalu ada disepanjang perjalan yang aku punya.
