MEJAHIJAU - Di tengah Kota Makassar, Monumen Mandala berdiri sebagai penanda sebuah masa ketika Indonesia belum selesai memperjuangkan kedaulatannya. Monumen itu dibangun untuk mengenang perjuangan pembebasan Irian Barat melalui Operasi Mandala pada 1962. Ada pengorbanan, keberanian, dan keyakinan bahwa sebuah bangsa harus mampu menentukan nasibnya sendiri.
Delapan puluh satu tahun setelah Indonesia merdeka, kita memang tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang sama. Tetapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan ternyata tidak pernah benar-benar selesai. Bentuknya saja yang berubah.
Hari ini, yang dihadapi rakyat bukan lagi tentara asing, melainkan ketidakadilan yang tumbuh di dalam negeri sendiri. Hukum yang belum selalu berdiri tegak dengan ukuran yang sama, korupsi yang menggerogoti uang publik, kesenjangan yang terus melebar, hingga suara rakyat yang kadang baru dianggap penting ketika dibutuhkan.
Ironinya, kita sering begitu bersemangat merayakan kemerdekaan, tetapi kurang serius menjaga maknanya.
Kita mengibarkan bendera, menggelar upacara, menghafal nama-nama pahlawan, lalu kembali pada kehidupan seperti biasa. Padahal kemerdekaan seharusnya tidak hanya terlihat dari merah putih yang berkibar, tetapi terasa dari cara negara memperlakukan rakyatnya.
Monumen Mandala adalah pengingat bahwa kedaulatan yang dahulu diperjuangkan dengan pengorbanan tidak boleh dipertukarkan dengan kesewenang-wenangan, kepentingan segelintir orang, atau kekuasaan yang berjalan tanpa kontrol.
Karena itu, memaknai kemerdekaan hari ini bukan sekadar mengenang mereka yang pernah berjuang. Tugas generasi sekarang adalah memastikan perjuangan itu tidak kehilangan arah.
Dulu mereka mempertahankan tanah air dari kekuasaan asing.
Hari ini, kita harus mempertahankan republik dari ketidakadilan yang datang dari dalam.
Sebab kemerdekaan adalah tentang apakah rakyat benar-benar hidup sebagai manusia yang merdeka.
