Program ini bertujuan mengenalkan pemanfaatan limbah kulit buah kakao dan bonggol jagung menjadi briket biomassa sebagai bahan bakar alternatif yang bernilai ekonomi. Selain mengurangi limbah pertanian, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dan membuka peluang usaha berbasis sumber daya lokal melalui demonstrasi pembuatan briket dan diskusi bersama warga.
Koordinator program kerja, Haslan, menyampaikan bahwa pemanfaatan limbah pertanian perlu terus didorong agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
"Kami berharap masyarakat tidak lagi memandang limbah pertanian sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Melalui program ini, khususnya para petani dapat melihat bahwa kulit kakao dan bonggol jagung dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat di Kelurahan Tanahloe," ujarnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan briket, mulai dari pengenalan bahan baku hingga proses pencetakan briket.
Salah seorang masyarakat sekaligus penggiat tanaman kakao, Hamid, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut.
"Saya berharap program ini dapat memotivasi para petani untuk memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk yang bermanfaat. Meskipun saat ini belum banyak yang tertarik mengembangkan briket, ke depan inovasi ini berpotensi menjadi peluang usaha baru, bahkan dapat mendukung lahirnya UMKM yang mampu menjangkau pasar yang lebih luas," tuturnya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Gelombang 116 Universitas Hasanuddin berharap pemanfaatan limbah pertanian dapat terus berkembang sebagai inovasi yang mendukung ekonomi masyarakat sekaligus pelestarian lingkungan.